Cerita Fabio Quartararo, ''Rising Star'' MotoGP 2020 yang Ditemani Helm Buatan Indonesia Saat Masa Sulit

Cerita Fabio Quartararo, ''Rising Star'' MotoGP 2020 yang Ditemani Helm Buatan Indonesia Saat Masa Sulit

Fabio Quartararo saat di ajang Moto2 | Racing Helmets Garage

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Kawan GNFI, bagi penggila olahraga balap MotoGP saat ini, siapa yang tak kenal dengan sang ''Rising Star'' MotoGP 2020, Fabio Quartararo.

Pebalap asal Prancis berusia 21 tahun itu mendadak populer usai menuntas habis dua seri MotoGP di Spanyol, yakni JerezGP (19/7/2020) dan AndalusiaGP (26/7) dengan mendulang nilai sempurna, yakni 50 poin.

Selain menang dengan poin penuh dalam dua balapan tersebut, El Diablo--julukannya--juga melibas habis posisi pole, yakni sebagai pebalap yang mengisi posisi garis start pertama.

Pebalap dari tim satelit Yamaha Petronas Sprinta itu menyentak publik dengan mampu mengasapi seniornya di tim pabrikan Yamaha, yakni Maverick Vinales dan Valentino Rossi (Monster Energi Yamaha).

Bahkan pebalap senior lainnya seperti Andrea Dovizioso (Ducati) dan Alex Rins (Suzuki Ecstar), belum sanggup menyentuh pebalap yang sebenarnya namanya kurang moncer di ajang Moto3 dan Moto2 itu.

Saat ini pebalap bernomor balap 20 itu mengusai klasemen sementara MotoGP 2020 dengan 50 poin, disusul Maverick Vinales (40 poin) dan Andrea Dovizioso (26 poin).

Tapi tahukah kawan, sebelum tenar seperti sekarang, Quartararo pernah ditemani helm buatan Indonesia, yakni KYT, pada ajang Moto2 2017 dan 2018. Demikian situs Racing Helmets Garage mengabarkan.

Kemudian, baru pada awal 2019 saat naik kelas ke MotoGP pebalap ini mendapat kontrak baru dari helm buatan Amerika Serikat, Scorpion.

Fabio Quartararo saat di ajang Moto2 2018
Fabio Quartararo saat di ajang Moto2 | Racing Helmets Garage

Jalan terjal Quartararo ke arena MotoGP

Meski kini semua pengamat dan pebalap top dunia mulai memperhitungkan sepak terjangya, namun tak ada yang menyangka bahwa untuk menapak ke arena MotoGP, Quartararo menjalaninya dengan sangat sulit.

Kepada media Jerman, Speedweek, ia menceritakan perjalanannya menuju MotoGP melaui cara yang sama sekali tak mudah.

Quartararo menggebrak dunia balap motor saat masih berusia 15 tahun, saat menjuarai CEV Moto3 tahun 2013 dan 2014. Prestasi serupa seperti yang dilakoni sang ''Baby Alien'', Marc Marquez. Muda, cepat, dan agresif!

Tak heran, kala itu banyak yang menyebut Quartararo sebagai ''The Next Marc Marquez''. Julukan yang kian melekat, karena ia satu manajemen dengan Marc dan Alex Marquez melalui tangan dingin sang manajer, Emilio Alzamora.

Alzamora memberi kesempatan pada Quartararo turun di ajang Moto3 pada 2015 dengan naungan tim Estrella Galicia 0,0. Meski mengendarai motor Honda, nyatanya Quartararo fakir podium karena cedera engkel yang membuatnya tak kompetitif di musim itu.

Pada 2016, ia pun pindah ke tim Leopard Racing Moto3. Berduet dengan Danny kent. Saat itu timnya berhasil meraih juara dunia Moto3 2016.

Namun di balik kisah sukses tim Leopard, ada kejadian yang menurut Quartararo sangat janggal. Ketika ia menandatangani kontrak untuk menggunakan motor Honda, namun saat balapan, ia diberi mesin KTM hingga harus membuatnya beradaptasi dari nol.

Saat menunggangi KTM, Quartararo praktis mengalami paceklik juara, hingga akhirnya ia diremehkan banyak orang dan 'ditendang' Alzamora. Prestasinya di CEV Moto3 kala itu dianggap hanya kebetulan belaka.

Selain ditinggal sang manajer, sponsor helm asal Jepang, Shoei, pun angkat kaki dan tak lagi menyediakan pelindung kepala Quartararo.

Fabio Quartararo saat di ajang Moto2 2018
Fabio Quartararo saat di ajang Moto2 | tangkapan layar Twitter @MotoGP

Meski paceklik kemenangan, pada 2017 Quartararo kemudian naik kelas ke Moto2, dan bergabung dengan tim Pons Racing yang memiliki motor bersasis Kalex. Kali ini untuk melindungi kepalanya, ia disponsori helm asal Indonesia, KYT.

Di tahun pertamanya bersama helm KYT, lagi-lagi ia paceklik juara. Kemudian manajer barunya, Eric Mahe, menyarankannya untuk pindah ke tim Speed-Up Racing Moto2 pada 2018.

Pada 2018, justru Quartararo menggebrak melalui kemenangan di GP Catalunya, Spanyol. Ia pun naik podium pertama bersama helm yang mendukungnya, KYT.

Ia menceritakan, tim barunya itu tak membebaninya dengan juara atau kemenangan, hanya menyarankannya balapan sebaik mungkin.

Kemenangannya di GP Catalunya kala itu ternyata dilirik oleh Sepang Racing Team, Yamaha, dan Petronas. Mereka ingin memboyong Quartararo ke kelas MotoGP pada 2019.

Lagi-lagi banyak pengamat yang mencibir dan meragukannya, karena fakir gelar di ajang Moto3 dan Moto2. Terlebih untuk berlaga di kelas para raja.

Di tim baru asal Malaysia itu, Quartararo mengaku menemukan lingkungan kerja yang nyaman dan ditebusnya dengan memberikan enam pole dan tujuh podium.

Padahal, di tim Petronas Yamaha yang merupakan tim kedua Yamaha MotoGP, Quartararo bertandem dengan Franco Morbidelli yang merupakan murid Valentino Rossi dan jebolan VR46 Academy.

Akan tetapi nyatanya, prestasi Quartararo yang lebih terlihat cemerlang, dan kemudian diganjar dengan penghargaan Best Rookie MotoGP 2019.

Sayang, KYT meninggalkan Quartararo pada 2019 melalui konfirmasi Simon Mulyadi, Marketing & Communication Manager PT Tarakusuma Indah selaku produsen helm KYT.

''Musim depan (2019) KYT tidak dengan Fabio Quartararo,'' katanya saat dikonfirmasi Otomania (5/1/2018).

Rekor Quartararo di ajang MotoGP

Selain mencengang publik penggila MotoGP, Quartararo juga mencatatkan sejarah dengan memecahkan beberapa rekor di kelas premier ini. Di antaranya adalah:

  • Pebalap termuda yang meraih pole sekaligus kemenangan dalam 2 balapan beruntun. Rekor ini memecahkan rekor Marc Marquez yang juga menjadi pebalap termuda dengan pole dan kemenangan, namun Marquez tak beruntun meraih pole dalam 2 balapan.
  • Pebalap asal Prancis pertama yang meraih kemenangan (podium 1) di MotoGP dalam kurun 20 tahun terakhir.
  • Pebalap Prancis tersukses sepanjang sejarah MotoGP.
  • Masuk jajaran 10 pebalap termuda yang memenangkan kelas MotoGP.
  • Masuk jajaran pebalap dengan tim satelit (tim lapis kedua pabrikan) tersukses setelah Valentino Rossi--saat membela tim Nasro Azzuro Honda.

Dengan sisa balapan MotoGP 2020 yang tinggal 12 seri lagi--dari total 14 seri, tentunya peluang lain untuk memecahkan rekor-rekor baru masih terpampang di hadapan Quartararo.

Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga14%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang57%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau14%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Semangat Menyala Silas Papare, Bebaskan Papua dari Kolonialisme demi Indonesia Sebelummnya

Semangat Menyala Silas Papare, Bebaskan Papua dari Kolonialisme demi Indonesia

Sejarah Hari Ini (14 Agustus 1961) - Apel Akbar Gerakan Pramuka Indonesia di Jakarta Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (14 Agustus 1961) - Apel Akbar Gerakan Pramuka Indonesia di Jakarta

Mustafa Iman
@mustafa_iman

Mustafa Iman

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.