Lita: ‘’Wajahku Cantik, Kan? Kalau Bersama Plastik Ini Tetap Cantik Ngga?’’

Lita: ‘’Wajahku Cantik, Kan? Kalau Bersama Plastik Ini Tetap Cantik Ngga?’’

Aku Ranitya Nurlita, seorang aktivis lingkungan © Dok. Pribadi Ranitya Nurlita/Twitter @ranityanurlita

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Hai…

Namaku Ranitya Nurlita. Banyak teman, saudara, dan kolega, lebih akrab memanggilku dengan Lita.

Aku sempat dikenal dengan seseorang yang selalu memakai hiasan kepala dari plastik. Sebagai aktivis lingkungan, sudah seharusnya aku merepresentasikan diriku melalui ‘’kecantikan’’ lingkungan.

Ada kisah panjang di balik semua hal yang masih aku lakukan sampai saat ini. Ada kisah dan keterpurukan yang akhirnya membuat hidupku untuk memilih menyayangi, memberi kasih sayang kepada lingkungan.

Dibanding para pesohor Indonesia lainnya, namaku belum besar alias belum terlalu terkenal.

Tapi bukan itu tujuanku. Biarkan tanah, rumput, hutan, air laut, dan plastik-plastik sampah itu saja yang mengenalku. Mereka saksi bisu apa yang sedang aku kerjakan dan perjuangkan hingga kini.

Bisa berbagi cerita lewat Komunitas Historia Indonesia (KHI) pada 12 Juli 2020 lalu, sudah menjadi kehormatan bagiku.

Kalau kata Kang Asep Kambali, Presiden KHI yang juga seniorku itu bilang, ‘’Kalau sejarah itu ditulis oleh mereka yang menang, maka masa depan itu diciptakan oleh kita yang berjuang.’’

Bagi dia, kisahku rupanya dipandang sebagai ‘’sejarah’’. Toh sejarah itu kan cerita tentang masa lalu. Buatmu, kisahku mungkin bukan bagian dari sejarahmu, tapi sudah pasti menjadi sejarahku.

Inilah sejarah seorang Lita.

Aku Tidak Suka Kuliah Ini!

Institut Pertanian Bogor
Aku senang kuliah di IPB, tapi aku tidak suka jurusan kuliahku © Dok. IPB

Selama pandemi, aku pulang kampung ke Bojonegoro, Jawa Timur. Biasanya aku tinggal di Jakarta sambil menjalani bisnisku yang baru saja lahir. Sebuah bisnis sosial tentang sampah yang bernama Wastehub.id.

Sebenarnya pekerjaan pertamaku bukan bisnis ini, tapi aku bekerja di salah satu perusahaan produk perikanan yang berkantor di Thailand. Sudah satu tahun lebih aku terbiasa kerja remote, kerja jarak jauh.

Jadi setelah aturan work from home (WFH) yang disampaikan oleh pemerintah, sama sekali tidak membatasi produktivitas aku untuk bekerja. Hanya saja kali ini aku kembali ke suasana kampung halamanku di Bojonegoro.

Sebenarnya, aku tidak pernah membayangkan untuk bisa bekerja dan menjadi ekspertis dibidang perikanan. Bahkan sampai perusahaan asing melirikku untuk menjadi bagian dari mereka.

Kalau boleh jujur, dulu aku tidak suka bidang perikanan. Sejak kuliah di Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) dulu, itulah saat dimana keterpurukanku dimulai.

--

Sejak lahir sampai SMA aku tinggal di Bojonegoro, kota kecil di Jawa Timur. Merasa diri sebagai anak dari kota kecil, aku selalu beranggapan yang penting aku kerja yang biasa-biasa saja. Yang penting nyaman, tentram, dan sentausa.

Tak pernah sama sekali terbayang akan menjadi aktivis, membuka bisnis sendiri, sampai punya komunitas sendiri. Itu sangat jauh dari ekspektasiku.

Namun karena aku memiliki keinginan besar untuk kuliah, aku gadaikan nilai rapot aku asal aku bisa masuk kuliah di jurusan yang aku inginkan, yaitu Jurusan Statistika dan Ilmu Gizi, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Singkat cerita, entah ada petir dan geledek apa yang menyambar. Dua jurusan itu tidak menerimaku sebagai mahasiswanya. Malah mereka memilihkan Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Aku syok!

Itu jurusan apa?

Jenjang karirnya bagaimana?

Mau kerja di mana kalau sudah lulus nanti?

Karena hasil yang tidak sesuai harapanku, aku mencoba peruntungan lain. Aku kembali mencoba menggadaikan nilaiku ke UI, UGM, sampai STAN. Dan semua gagal.

Akhirnya, terpaksa aku harus ambil IPB dengan jurusan yang tidak aku sukai.

Awal Mula Keterpurukanku, Namun Titik Nol Awal Kehidupanku

Ranitya Nurlita
Ranitya Nurlita, kedua dari kanan di bawah yang menggunakan kerudung biru dongker, saat mengikuti kegiatan kerelawanan pertamanya © Dok. Pribadi Ranitya Nurlita

Masa-masa awal kuliah adalah masa keterpurukanku. Aku hanya seorang gadis dari kota kecil yang tidak pernah berharap masuk jurusan ini. Aku tidak tulus menjalani kuliah ini. IPK pertamaku saja hanya 2,54. Transkrip nilai sudah seperti rantai karbon saja, semua mata kuliah dipenuhi huruf C.

Singkat cerita, aku ingin segera mengakhiri jalan hidup yang tidak aku harapkan ini. Aku babat habis semua mata kuliah selama delapan semester. Alih-alih ingin segera mengakhiri, aku baru menyadari sesuatu.

Setelah aku lulus, IPK-ku tidak bagus-bagus amat, aku tidak punya pengalaman organisasi maupun pengalaman di unit kegiatan mahasiswa. Aku tidak mungkin lulus dengan cara begini. Aku harus cari sesuatu hal yang membuatku bisa menikmati hidup dan mendapati jati diriku yang sebenarnya.

Mengerjakan hal yang benar-benar aku suka.

Akhirnya aku memutuskan untuk menunda kelulusanku dan menemukan kegiatan kerelawanan dari Kompas Muda yang bertajuk Green Living Movement.

Disinilah aku merasa menemukan sesuatu yang patut aku perjuangkan. Meski capek, tapi aku bahagia. Isu lingkungan yang mendorong aku untuk terus menggali kemampuan diriku sendiri. Isu lingkungan yang mendorong aku untuk mencintai sesuatu.

Sampai akhirnya aku punya kesempatan untuk melihat dunia. Gadis kota kecil Jawa Timur ini berangkat ke Bangladesh. Negara luar pertama yang aku datangi. Bangladesh yang semakin membuka mataku ternyata isu lingkungan bukan persoalan sampah saja, tapi juga tentang perdagangan satwa liar, kebakaran, polusi air, perubahan iklim, dan sebagainya.

Ini semakin kompleks dan semakin seru! Aku banyak bertemu orang yang satu visi dan satu passion denganku.

Akhirnya aku menemukan jalan hidup yang tidak harus aku terpaksa menjalaninya seperti saat kuliah.

Merdeka!

Lita di Bangladesh
Lita di Bangladesh, negara pertama yang dikunjungi © Dok. Pribadi Ranitya Nurlita

Bermodal bahasa Inggris yang pas-pasan dan keberanian menunjukkan kemampuan bahasaku yang pas-pasan itu, aku merasa justru kesempatan datang secara bertubi-tubi. Sampai tidak terasa waktu bergulir dengan cepat.

Tahun 2014 aku diberi kesempatan lagi untuk melihat tanah dunia di bagian yang lain. Aku akhirnya bisa berangkat ke Jepang melalui program Jenesys yang dibiayai oleh Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Di sana lagi-lagi aku belajar lingkungan, sains, dan teknologi program.

Masih ingat dalam benakku bagaimana situasi di Fukuoka yang telaten memilah sampah sampai 30 jenis! Benar-benar takjub.

Masih di tahun yang sama, aku lagi-lagi dapat kesempatan ke Amerika Serikat. Lima minggu aku digembleng di sana untuk menjadi seseorang yang bisa berguna untuk lingkungan. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku mau total.

Sampai akhirnya aku dipercaya untuk mengelola dana hibah pemerintah Amerika Serikat. Jumlahnya ribuan dollar! Sangat banyak!

Dana itu harus aku gunakan untuk membuat proyek terkait isu lingkungan di tiga negara sekaligus. Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Lama proyeknya dua tahun.

Ranitya Nurlita
Ranitya Nurlita (atas) memakai pakaian adat bertema The Mystical Fire Dress di Jepang © Dok. Pribadi Ranitya Nurlita

Sejak saat itu aku semakin tergila-gila akan panggung. Menurutku hanya inilah yang bisa menjadi kesempatanku untuk bisa menyebarkan hal-hal baik. Sekadar membantu dan mengingatkan teman-teman dan masyarakat akan isu lingkungan.

Hanya dengan panggung mereka mau mendengarkan. Bagiku ini penting. Ini menyangkut masa depan semua orang.

Kemerdekaan akan nikmat berbicara di panggung seolah terus-menerus aku rasakan. Berbagai kesempatan datang dan layak aku perjuangkan.

Tahun selanjutnya, pada 2016, aku menjadi perwakilan Jawa Timur di acara Kapal Pemuda ASEAN-Jepang. Kala itu aku harus pesiar di dalam kapal selama tiga bulan untuk menjadi representasi dari negaraku, Indonesia.

Ini jadi sensasi yang berbeda karena kebanggaan lain hadir ketika Indonesia memutuskan untuk menampilkan adat Jawa Timur ke panggung dunia. Kami melakukan pertunjukan bertajuk ‘’The Mystical Fire Dress’’. Diambil dari sebuah kayangan api atau api abadi yang ada di Bojonegoro.

Ya! Kotaku yang akan menjadi representasi negaraku. Kota kecil di Jawa Timur itu akhirnya dilihat dunia.

Tentu saja aku tidak lupa dengan misi menyayangi lingkungan yang harus aku sebarkan selama di sana.

3 Surat Peringatan DO!

Surat DO
Ilustrasi © Inked Pixels/Shutterstock

Di tengah kemerdekaanku menyukai sesuatu yang aku kerjakan. Petir dan geledek itu kembali menghantamku. Surat Drop Out (DO) datang. Bukan hanya sekali, tapi tiga kali!

Keasikan berkeliling dunia, aku seolah lupa dengan tugas utamaku, yaitu menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Kuliah di Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB harus aku selesaikan.

Wes kadung nyemplung, kudu mentas.

Itu misi hidup yang diajarkan dari keluargaku selama di Bojonegoro. Apapun yang terjadi, aku harus menyelesaikan ini. Entah bagaimana pun hasil akhirnya. Mau itu baik atau buruk. Pokoknya harus aku selesaikan!

Tidak mudah menyelesaikan sesuatu yang aku tidak suka. Tidak seperti saat aku berbicara tentang isu lingkungan di dunia. Bagiku ini saat-saat tersulit selanjutnya.

Dosen yang memandangku sinis karena aku terlalu sibuk di luar menjadi hambatanku. Ini memang salahku, aku terlalu menyibukkan diri untuk ikut acara internasional dan melupakan tanggung jawabku.

Aku harus berusaha. Aku tidak perlu sampai dikirimi surat DO yang keempat sehingga aku harus segera menyelesaikan ini.

Alhamdulillah, aku lulus dengan IPK pas-pasan, 3,05 dan berhasil menyelesaikan kuliahku selama tujuh tahun tiga bulan. Rekor terburuk, sekaligus terbaik aku rasa karena menurutku tidak ada yang berani melakukan itu. Sengaja berlama-lama di kampus.

Kembali Merdeka

Ranitya Nurlita
Aku Ranitya Nurlita, orang yang cinta akan kecantikan bumi © Dok. Pribadi Ranitya Nurlita

Setelah lulus, aku kembali merdeka melakukan hal yang aku suka. Kini aku sudah cukup untuk tampil di panggung. Aku harus mencoba cara lain. Aku harus melakukan tindakan nyata.

Pada akhirnya aku berhasil melahirkan anakku yang bernama Wastehub.id sambil terus menapaki karir sebagai (orang yang dianggap) ekspertis dibidang Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Aku hanya menggambarkan bumi ini seperti wajahku. Wajahku cantik, kan? Bumi ini juga cantik. Tapi bayangkan jika kecantikan itu tertutupi oleh plastik. Apakah masih terpancar kecantikanku? Apakah bumi ini masih terlihat cantik dengan plastik-plastik itu?

Terkadang kita memang perlu untuk mencari perhatian karena memang itu yang kita lakukan. Tidak boleh ada yang sampai tidak menyadari kecantikan bumi ini hanya karena tertutup plastik.

Ini kisahku. Ini sejarahku. Jangan berhenti sampai di sini bagi kamu yang sedang berjuang. Sejarahmu akan terukir. Sehingga ketika kamu melihat ke belakang, kamu bisa memandang dengan bangga dirimu sendiri.

--

Baca Juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga40%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli10%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi40%
Pilih TerpukauTerpukau10%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Penghargaan Norwegia untuk Indonesia yang Berhasil Turunkan Emisi Karbon Sebelummnya

Penghargaan Norwegia untuk Indonesia yang Berhasil Turunkan Emisi Karbon

Sejarah Hari Ini (14 Agustus 1961) - Apel Akbar Gerakan Pramuka Indonesia di Jakarta Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (14 Agustus 1961) - Apel Akbar Gerakan Pramuka Indonesia di Jakarta

Dini Nurhadi Yasyi
@dininuryasyi

Dini Nurhadi Yasyi

fiksidini.wordpress.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.