SOS! Indonesia Darurat Lagu Anak!

SOS! Indonesia Darurat Lagu Anak!

Ilustrasi anak-anak © Artem Beliaikin/Pexels

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Satu… satu… aku sayang Ibu

Dua… dua… juga sayang ayah

Tiga… tiga… sayang adik kakak

Satu… dua… tiga… sayang semuanya

Tidakkah Kawan GNFI menyadari bahwa di lirik lagu "Sayang Semuanya" itu tidak ada satu kata pun yang terdapat huruf "r" di dalamnya?

Bagi kita yang terlalu sering mendengar dan menyanyikannya, mungkin tidak akan sadar. Tapi bagi sang pencipta lagu, ini menjadi hal yang penting dipertimbangkan agar menjadi sebuah lagu sederhana yang mudah diterima oleh anak-anak.

"Sedapat mungkin syairnya menghindari huruf 'r' karena anak balita sukar malafalkannya," aku Bu Kasur atau Sandiah Soerdjono, sang pencipta lagu, kepada Gatra pada edisi 28 November 2002.

Melihat bagaimana perhatian dan sayangnya Bu Kasur kepada anak-anak, Pramoedya Ananta Toer dalam Mimbar Penyiaran Duta (1953) menyebutkan bahwa Indonesia butuh sedikitnya sepuluh ribu Bu Kasur—dan pasangannya, Pak Kasur—untuk mendidik jutaan anak Indonesia.

"Khususnya pendidik yang mampu memberikan sebaik-baiknya pendidikan kepada bocah-bocah agar kelak mereka bisa lebih baik dari angkatan sekarang," tulis Pram.

Hitungan itu hanya untuk lima tahun sejak tulisan Pram disiarkan, yaitu pada 1953.

Realitanya, para pendidik anak kini seolah tidak bisa beralih dari lagu-lagu hasil para legenda lagu anak Indonesia, seperti Bu Kasur, Pak Kasur, Ibu Sud, dan A.T. Mahmud. Lagu-lagu mereka dianggap masih sesuai dengan kondisi anak-anak.

Tak apa tak berima indah, dengan lirik pendek nan sederhana, dengan tangga nada yang cocok dengan anak-anak menjadi alasan terbesar mereka kembali pada lagu-lagu "lama" itu.

Benarkah tak ada yang pernah bisa menggantikan para legenda lagu anak tersebut?

Atau malah justru ini menggambarkan kondisi kita darurat lagu anak?

Legenda yang Tak Tergantikan

Pak Kasur dan Bu Kasur
Pak Kasur dan Bu Kasur, legenda pencipta lagu anak © Istimewa

"Mereka tidak akan tergantikan, tapi akan muncul karya-karya baru yang mengikuti zaman sekarang yang terinspirasi dari mereka," ungkap Ari Arasy Magistra, dosen musik pada Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, kepada GNFI (27/6) ketika ditanya soal, adakah yang bisa menggantikan lagu-lagu anak karya legenda Bu Kasur dan Pak Kasur, A.T. Mahmud, dan Ibu Sud.

Meski begitu, Ari juga tidak menafikan bahwa pendekatan musik memang harus mengikuti dengan zaman setiap anak. Menurutnya, sebuah karya seni memang dinamis mengikuti pergerakan, perilaku, dan segala hal yang berhubungan dengan manusianya.

Kenyataannya memang benar, kalau kita mengingat ke belakang, masa-masa keemasan lagu anak di tahun '70-an sempat terlahir kembali pada tahun '90-an. Kala para legenda musik tersebut sudah tiada, lalu muncul seorang Papa T. Bob.

Bagi Kawan GNFI era '90-an tentu sangat familier dengan lagu "Diobok-obok" yang dibawakan oleh Joshua. Lalu "Si Lumba-Lumba" oleh Bondan Prakoso, "Du Di Dam" oleh Enno Lerian, dan "Jangan Marah" yang dibawakan Trio Kwek Kwek.

Masa kejayaan itu ternyata berlanjut pada awal tahun 2000 dengan hadirnya Sherina dan Tasya Kamila. Realitanya, perkembangan lagu-lagu anak itu hanya mampu menyuguhkan kebutuhan musik anak-anak dalam satu kali putaran milestone satu generasi.

Pada generasi baru anak-anak selanjutnya, para orang tua berusaha kembali menghadirkan keriangan anak-anak pada generasi sebelumnya. Sampai akhirnya tanpa disadari bahwa seolah tidak ada pilihan lain bagi orang tua generasi selanjutnya selain kembali menyanyikan dan memperdengarkan lagu-lagu tersebut.

Hanya satu alasannya. Tidak ada lagi lagu baru untuk mereka.

"Ya. Kita kekurangan lagu anak yang baru," aku Ari, "Kenapa bisa kurang, karena industrinya pun tidak ada. Ini karena orang mau membuat sesuatu harus ada keuntungan. Biasanya imbasnya ke bisnis dan industrinya enggak ada.’’

Dilema Perubahan Zaman

PerkembanganTeknologi
Gambaran anak dan remaja yang asyik bermain gawai. © YTCount/Unsplash

Tidakkah Anda rindu melihat anak-anak dengan riang bernyanyi sesuai dengan usianya?

"Ya. Saya juga merindukan itu," ungkap Ari.

Alih-alih menyamarkan kondisi kekurangan lagu baru untuk anak, ada hal yang memang disayangkan yang kerap ditemukan Ari. Yaitu tidak sedikit dari masyarakat atau bahkan pendidik yang mengganti lirik dari lagu yang sudah ada.

"Dalam beberapa kondisi, it’s fine," kata Ari, "Tapi secara tidak sadar itu mengajarkan enggak apa-apa kok plagiat. Tapi kenapa enggak buat aja, sih. Makanya kita jadi kekurangan [lagu anak]."

Sejatinya, membuat sebuah lagu memang tidak sulit. Hal ini pun diakui Ari. Hanya saja butuh usaha lebih untuk bisa membuat sebuah karya yang bisa diterima oleh orang lain. Hal ini tentu sangat berlaku pada lagu-lagu.

Salah satu hal yang sulit justru adalah pendekatan kepada anak-anak agar mereka menyukai lagu yang sudah dibuat.

"Kalau kita ingin meraih anak-anak zaman sekarang, kita harus masuk ke dunia mereka dulu. Pelajari dulu apa yang mereka sukai, kemudian pelan-pelan bawa ke dunia kita. Karena mereka mungkin tidak akan mendengarkan lagu yang mereka anggap tidak keren, enggak enak."

"Jadi tetap harus menyesuaikan dengan selera anak-anak sekarang," jelas Ari.

Dinamika kehidupan manusia yang dimaksud Ari memang tidak lepas dari pengaru dan peran media. Apapun bentuk medianya.

Jika , menurut Ari, kita selama ini melihat bahwa anak-anak terlalu sering terpapar dengan lagu-lagu yang tidak sesuai dengan usianya, maka sepatutnya kita mesti melihat bagaimana peran media tersebut dalam mendistribusikan lagu-lagu anak.

Ari pun sebenarnya percaya bahwa masih ada—bahkan banyak—yang punya keprihatinan yang sama. Dan hanya kelompok kecil yang mengetahui apa yang sosok-sosok tersebut perjuangkan.

"Mungkin sekarang banyak orang-orang yang menciptakan lagu anak, cuman tidak ter-follow up, tidak viral," katanya.

Sangat disayangkan memang perubahan tren dan teknologi yang terjadi malah seolah membuat para penyanyi dan pencipta lagu anak beredar secara senyap. Dukungan dari media dan industri musik dinilai memang sangat jauh berkurang.

Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif, Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif, Poppy Savitri, pernah memaparkan sebuah data terkait ini.

Salah satu alasan yang menjadi pemicu minimnya produksi lagu anak yang berkualitas, baik dari sudut pendidikan maupun yang bernilai budaya Indonesia saat ini, adalah tentang ketersediaan rekaman atau showroom produsen lagu anak.

Dari 12 sampai 15 perusahaan rekaman yang berbisnis, hanya beberapa saja yang masih memproduksi lagu anak.

"Ini karena ekosistem industri nyanyian anak-anak sudah tidak kondusif lagi. Jadi saat ini terjadi kekurangan lagu, kekurangan penyanyi, juga kurangnya minat konsumen. [Ini semua] merupakan akibat dari tidak kondusifnya ekosistem yang dimaksud,’’ ungkap Poppy dikutip CNN Indonesia (24/06/2018).

Jika dulu anak-anak tidak punya pilihan, hanya ada media seperti Radio Republik Indonesia (RRI) dan TVRI, maka sekarang kondisinya berbeda.

Anak-anak dihadapkan dengan banyak pilihan, sehingga mereka bebas memilih jenis hiburan apa yang mereka anggap menyenangkan. Inilah yang akhirnya dianggap sebagai pemicu tidak kondusifnya ekosistem yang dimaksud oleh Poppy.

Melihat kenyataan tersebut, GNFI mencoba menelusuri para pegiat musik yang selama ini sebenarnya melakukan "gerilya" untuk terus mengembangkan musik dan lagu anak.

Hingga akhirnya GNFI menemukan salah satu duo indie yang diketahui kerap menyanyikan lagu-lagu anak di setiap penampilannya. Mereka adalah Tetangga Pak Gesang, duo indie asal Bandung beranggotakan Arum Dayu dan Meicy Sitorus.

GNFI pun berkesempatan berbincang dengan salah satunya yaitu Arum Dayu melalui video telepon pada 27 Juni lalu. Begini kisah mereka.

Ternyata Masih Ada Pegiat Musik Anak

Lewat duo Tetangga Pak Gesang, Arum mengaku memang kerap menyanyikan lagu-lagu anak. Arum juga mengakui bahwa sebenarnya lirik lagu anak sangat bagus meski sederhana.

"Karya Ibu Sud misalnya, bahasa-bahasanya itu menurutku indah. Itu juga cukup menginspirasi kita dalam membuat lirik. Jadi banyak kiblatnya ke lagu-lagu anak," aku Arum.

Sejak dikenal masih kerap menyanyikan lagu anak, tak heran kalau penggemar mereka adalah anak-anak.

"Kita sering ke acara anak-anak, misalnya ke sekolah. Sempat waktu Hari Kanker, kita ke bangsal anak penderita kanker. Kita memang ada kedekatan dengan anak-anak," katanya.

Sebagai pegiat musik anak, Arum juga menyadari bahwa referensi lagu anak memang minim. Selama ini dia merasa bahwa ternyata belum semua lagu anak dikenalkan kepada anak-anak, hanya lagu-lagu yang populer saja yang sering didengarkan.

Kepada GNFI, Arum menceritakan bagaimana perannya dalam menghidupkan kembali lagu anak. Salah satu yang sudah dilaksanakan adalah proyek Musik Anak Nusantara.

"Kita ke Bali, ke Wakatobi, kita bikin workshop sama anak-anak. Kita bermain dengan mereka sambil kita bikin lirik dan lagu bersama. Sambil bilang ke mereka, 'Kalian tuh bisa bikin lagu sendiri!'" ujar Arum.

Di antara gugusan kepulauan di Kepulauan Tukang Besi, Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Kaledupa, Arum dan Meicy bertemu dengan anak-anak yang menginspirasi mereka. Alih-alih mengajak anak-anak untuk membuat lagu sebagai hiburan semata, kenyataannya mereka benar-benar membawakan lagu itu ke ruang produksi.

Arum mengisahkan, "Karena waktu itu bikinnya di pinggir pantai dan melihat orang tua [dari anak-anak itu] rata-rata adalah nelayan, kita akhirnya ngomongin tentang ikan, nelayan, laut. Dari kumpulan kata [yang dilontarkan anak-anak] kita coba rangkai, kita susun jadi satu bait."

"AKU SUKA MAKAN IKAN!" teriak seorang anak.

"Ikan yang paling enak di sini apa ya?" tanya Arum kepada anak-anak itu.

Hingga akhirnya terciptalah sebuah syair

Aku suka makan ikan…

Yang dibawa para nelayan…

Ikan Kadafo… Ikan Baronang… Ikan Opuru…

Dan Ikan Lompa…

Memakan ikan… Badan jadi kuat…

Sehat dan juga pintar…

Tak dapat dipungkiri memang bahwa selama dirinya melakukan berbagai workshop dengan anak-anak, secara tidak sadar Arum mengacu pada satu hal. Yaitu membuat sebuah lagu yang pedomannya tidak jauh dari lagu-lagu ciptaan para maestro, siapa lagi kalau bukan Ibu Sud, Pak Kasur, Bu Kasur, dan A.T. Mahmud.

Kondisi ini diakui Arum.

"Lagu-lagu mereka itu masih akan tetap hidup. Dan itu memang basicnya lagu-lagu sederhana sekarang. Seperti irama yang sederhana, kata-kata yang sederhana, berulang, dan pendek," ungkapnya.

Arum sempat menepis pernyataan GNFI yang menyebutkan bahwa Indonesia sedang dalam kondisi kehilangan sosok pencipta referensi lagu-lagu anak. Ia mengaku bahwa masih banyak sekelompok orang yang sangat memperhatikan dan giat secara serius melakukannya.

Dari pernyataannya, sorotan media bukanlah hal utama demi memenuhi keriangan anak-anak dalam bernyanyi.

"Aku merasa aku masih lakukan itu dan masih sering terlibat. Masih sering bernyanyi, bikin workshop, sampai ngajak anak-anak tetangga untuk main dan bernyanyi apapun," katanya.

Di dalam lingkungan pertemanannya pun Arum mengungkap bahwa dia masih dikelilingi oleh orang-orang yang masih giat dan punya perhatian untuk terus menciptakan lagu-lagu anak.

Tak Perlu Lagi Andalkan Media Mainstream

Media Mainstream
Layaw gawai yang menunjukkan berbagai platform dan aplikasi, tak terkecual dalam bidang musik dan tontonan. © Pixabay

Terlepas dari kesan menyenangkan, lagu yang didengarkan oleh anak sesuai dengan usianya diakui memang memiliki banyak manfaat. Salah satunya meningkatkan mood, meningkatkan kreativitas, melatih kemampuan berbahasa, dan banyak manfaat lainnya.

Baik Ari maupun Arum sama-sama menyepakati tentang manfaat musik atau lagu untuk anak.

Meski begitu Ari tetap optimis bahwa perlahan-lahan lagu-lagu anak Indonesia akan mencapai titik puncak. Di tengah sudah banyak platform yang dapat dijadikan arena memulai.

"Akan fix dengan sendirinya seiring dengan usaha-usaha yang kita lakukan sekarang. Berusahanya memang jangan membuat hal yang besar dulu, tapi dengan hal yang kecil. Dimulai dari rumah, didengarkan lagu kepada anak, sehingga membuat anak menyukai lagunya, membuat anak menjadi pribadi yang positif dan kreatif," jelas Ari.

Bagaimana caranya?

Ari mengatakan bahwa orang tua adalah garda terdepan untuk persoalan ini.

Oleh karena itu caranya dimulai dari rumah. Sosialisasi lagu-lagu anak dari orang tua menjadi salah satu paling efektif. Ini akan membuat anak-anak terbiasa mendengar lagu-lagu tersebut.

''Lagi-lagi dengan harapan (agar) anak bisa menjadi pribadi yang ceria karena lagu yang diperdengarkan sesuai dengan umurnya,'' kata Ari.

Di sisi lain Arum memiliki pandangan serupa namun dengan perspektif yang lain. Terutama terkait pemanfaatan dari macam-macam platform yang tersedia.

Arum justru percaya pegiat lagu anak tidak harus bergantung pada media mainstream, melaikan dilakukan secara DIY (do it yourself) dengan bisnis dikelola secara perorangan.

"Aku percaya sebenarnya lagu-lagu anak masih akan tetap bisa didengarkan. Masih tetap kita nyanyikan sebagai salah satu metode pembelajaran untuk anak."

"Kalau ada yang bilang, 'Anak-anak sekarang sudah zamannya hiphop'. Ya enggak apa-apa. Ini kan bicara bagaimana kamu mendidik anakmu,’’ pungkas Arum.

Mengenang Lagi Sang Legenda Musik Anak

Ibu Sud
Ibu Sud, Sang Maestro lagu anak pertama di Indonesia © Repro "Sumbangsihku bagi Pertiwi Jilid I"/Historia

Nama aslinya Saridjah Bintang Soedibjo. Namanya mungkin tak dikenal kalau tidak dibarengi dengan sebutan kondangnya, Ibu Sud. Dialah sosok seniman berjiwa pendidik.

Para pendidik Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Dasar, setidaknya pernah satu kali menyanyikan lagu Ibu Sud untuk disampaikan kepada anak didiknya. Entah itu "Burung Kutilang", "Tik Tik Bunyi Hujan", "Menanam Jagung", atau "Naik-Naik ke Puncak Gunung".

Inisiatifnya dilatari sulitnya anak-anak Indonesia memaknai bahkan hanya sekadar menanyikan lagu berbahasa Belanda kala itu. Hingga akhirnya lagu pertamanya mengudara pada 1928 di siara anak VORO (Vereniging voor Oosterse Radio Omroep).

Beberapa lagu yang populer adalah "Lagu Gembira", "Waktu Sekolah Usai", dan "Adik Mulai Berjalan". Ibu Sud bisa dibilang merupakan orang pertama yang menciptakan lagu anak-anak dalam bahasa Indonesia.

Lalu muncul "Pasangan Kasur", yakni Soerjono (Pak Kasur) dan Sandiah (Bu Kasur).

Nama "Kasur" ini cukup unik sejarahnya. Soerjono dikenal aktif di Pramuka di mana panggilang yang umum adalah "Kak". Jadilah ia dipanggil Kak Soer. Ketika usianya beranjak tua, seraya bergurau, orang-orang memanggilnya Pak Kak Soer. Entah siapa yang memulai, namanya lalu berubah menjadi Pak Kasur.

Keduanya mahir memandu acara anak di RRI. Kalau Pak Kasur berhalangan hadir, Bu Kasur yang mengambil alih. Eksistensi mereka semakin merebak kala TVRI pada 1962 juga meminta Pasangan Kasur memandu acara "Arena Anak-Anak", "Mengenal Tanah Air", dan "Taman Indria Bu Kasur".

Hebatnya, Bu Kasur mampu mempertahankan keceriaan dan perhatian penonton anak-anak di layar TV swasta lewat program Hip-Hip Ceria.

Sosok mereka mungkin tak pernah tergantikan, namun anak-anak tetap butuh karya-karya lagu anak yang akan melegenda selanjutnya. Supaya kita tetap bisa melihat keriangan mereka menyanyikan lagu sesuai dengan usianya.

A.T. Mahmud
A.T. Mahmud yang mencintai pendidikan anak, mulai menjadi pengajar bagi calon guru-guru TK hingga menggubah lagu-lagu abadi © Temankita.com

Bergeser ke Sumatra Selatan, lahir seorang bayi yang kerap dipanggil "Tong.. Otong.." oleh ibunya. Tetangganya pun ikut memanggilnya Totong ketika si anak beranjak remaja. Jadilah nama itu melekat pada sosok Masagus Abdullah Mahmud, penggubah lagu anak kelahiran Palembang.

Ya, tak sulit menebak bahwa dialah A.T. Mahmud, atau Abdullah "Totong" Mahmud, seorang guru yang bergulat dengan lagu anak-anak. Mahmud mengenal musik ketika sekolah menengah di Muaraenim dan berkenalan dengan seorang pemimpin orkes kota itu.

Mahmud kemudian menempuh karier sebagai guru, dengan masuk ke sekolah guru hingga pindah mengajar di Jakarta. Namun, gelora cintanya dalam menggubah lagu anak-anak mendapat tempat ketika ia mengajar Sekolah Guru Kanak-Kanak (SGTK) di Jalan Halimun, Jakarta.

Dari goresan pena Mahmud, anak Indonesia kini dapat bersenandung tentang indahnya warna pelangi dalam lagu "Pelangi", menikmati terangnya bulan lewat lagu "Ambilkan Bulan, Bu", dan "Balonku Ada Lima".

Selain lewat gubahan lagu, mereka juga berjasa pada negeri ini dalam perjuangan kemerdekan. Pak Kasur dan A.T. Mahmud tercatat pernah angkat senjata dalam Tentara Pelajar dan Ibu Sud adalah "aktivis" pergerakan kemerdekaan.

Semoga terlahir kembali lagu-lagu yang sesuai jiwa kanak-kanak dan Indonesia segera keluar dari darurat lagu anak.

Sumber: Gatra | Tirto.id | Wawancara Eksklusif GNFI

--

Baca Juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga29%
Pilih SedihSedih29%
Pilih SenangSenang14%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi29%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Tiga Pondasi Khusus Agar Bisnis Aman Sebelummnya

Tiga Pondasi Khusus Agar Bisnis Aman

Sejarah Hari Ini (14 Agustus 1961) - Apel Akbar Gerakan Pramuka Indonesia di Jakarta Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (14 Agustus 1961) - Apel Akbar Gerakan Pramuka Indonesia di Jakarta

Dini Nurhadi Yasyi
@dininuryasyi

Dini Nurhadi Yasyi

fiksidini.wordpress.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.