Bagaimana Psikologi Menjelaskan Rasisme dan Diskriminasi

Bagaimana Psikologi Menjelaskan Rasisme dan Diskriminasi

Keberagaman yang dimiliki Indonesia jadi alasan negeri ini bukan negara rasis © TheVisualsYouNeed/Shutterstock

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Di tengah isu pandemi Covid-19 yang masih membayangi dunia, secara mengejutkan sebuah tragedi di Amerika Serikat terjadi. Kejadian itu dalam sekejap mata menyatukan hati masyarakat di hampir seluruh dunia.

Untuk kesekian kalinya, terjadi insiden tewas warga kulit hitam oleh polisi. Kali ini yang menjadi korban adalah George Floyd.

Meski tak sampai menggelar demo besar-besaran di depan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta seperti yang terjadi di London, Budapest, atau sejumlah kota-kota mancangera lainnya, masyarakat Indonesia ikut menyuarakan keprihatinan dan mengkampanyekan antirasisme melalui media sosial.

Bahkan diskusi jadi sedikit melebar karena ada yang berpendapat, "Nggak usah jauh-jauh melihat Amerika, pikirkan dulu nasib orang Papua."

Memang Indonesia juga punya pengalaman dan pelajaran mahal mengenai interaksi antarsuku, agama, atau etnis, yang haris diambil inti pembelajarannya agar kita dapat hidup bersama secara lebih baik lagi.

"Di psikologi ada istilahnya konflik karena sumberdaya yang langka atau scarce resources. Jadi, konflik antar mereka itu horizontal karena memang ada perebutan resource. Bukan murni karena konflik rasial,’’ ungkap Zein Permana, psikolog yang kini sedang menjalani pendidikan doktoral di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, kepada GNFI (10/6).

Bersama Zein, GNFI berdiskusi mengenai fenomena diskriminasi dan rasisme dalam perspektif ilmu psikologi.

Perilaku Manusia Saat Dihadapkan Orang yang Berbeda

Perilaku Manusia Saat Melakukan Rasisme
Ilustrasi sikap rasisme yang terjadi pada manusia © Lightspring/Shutterstock

Secara psikologi, Zein menjelaskan, perilaku diskriminasi atau rasis sebenarnya terjadi karena ketidaktepatan manusia mengambil sikap atas dua urutan proses yang terjadi dalam dirinya. Ini biasanya terjadi kala dihadapkan dengan seseorang yang berbeda dengan dirinya.

- Pikiran

"Dalam pikiran, kita sudah mulai mengkategorisasikan. Dia bagian dari kelompok lain, saya bagian dari kelompok yang berbeda,’’ kata Zein.

Setiap kali manusia bertemu dengan orang lain, hal yang paling pertama dipikirkan olehnya adalah mengkategorisasi orang lain dengan kelompok tertentu yang memang ada hubungannya dengan dia. Dan yang paling mudah dilakukan adalah kategorisasi berdasarkan tampilan fisik, terutama warna kulit.

"Di Indonesia juga sebenarnya gitu, ya. Ada di pikiran orang mulai mengkategori. Misalnya ini mukanya agak kotak, oh ini orang Sumatra. Lalu, ini mukanya kok sayu-sayu? Kayaknya orang Solo, orang Jawa, nih,’’ Zein memberi contoh.

Sebenarnya itu merupakan hal yang wajar, kata Zein, kalau manusia kerap mengelompokkan orang lain sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Kembali lagi pada persoalan bahwa ini sebenarnya sebuah upaya untuk bisa mengenal orang lain.

"Misalnya, Padang adalah singkatan pandai berdagang. Batak, katanya, banyak taktik. Jawa, suka jaga wibawa. Sunda, suka bercanda, dan macam-macam. Stereotipe itu ada.’’

Ketika sudah mulai ada sikap menyamaratakan orang seperti ini, kerap terjadi juga penyanggahan yang dilakukan, seperti:

"Kamu orang Sunda serius banget, sih?’’

"Kok kamu orang Padang tidak bisa jualan?"

Menurut Zein inilah cara kita memahami lingkungan. Manusia butuh kategori untuk memahami orang. Sampai akhirnya menyadari, "Oh ternyata kamu orang Sunda yang beda, ya."

- Prasangka

Stereotipe itu bisa berakhir dengan prasangka yang harus diakui lebih sering tidak tepat. Misalnya dialog di bawah ini:

Papa: "Kamu lagi dekat sama siapa?’’

Aku: "Sama si X, Pa."

Papa: "Si X itu bukannya orang Palembang, ya? Jangan sama dia. Papa tidak suka kalau kamu sama dia.’’

Adakah di antara Kawan GNFI yang mengalami kondisi serupa di atas?

Zein menjelaskan bahwa pada kondisi tersebut, manusia sudah melibatkan perasaan negatif saat seseorang sudah mulai memilah orang lain berdasarkan kelompok tertentu. Hal ini juga sebenarnya kerap dan normal terjadi pada manusia, terutama karena hasil sosialisasi.

Alasannya bukan karena seseorang itu pernah melakukan hal yang negatif atau merugikan dirinya. Ini karena persoalan seseorang itu (si X) termasuk dalam kelompok tertentu yang menurutnya tidak cocok dan serasi dengan dirinya.

"Mulai ada perasaan negatif. Itu namanya prasangka, prejudice istilahnya. Itu masih di kepala, ya." lanjut Zein.

Kondisi akan menjadi negatif, jelas Zein, jika prasangka tersebut sudah masuk ke sikap dan perilaku yang membuat sebuah kebijakan dan aturan pada orang lain. Kebijakan dan aturan itu yang nantinya menimbulkan sebuah perlakuan berbeda yang dianggap hanya memenuhi kepentingan kelompok tertentu.

"Kalau sudah jadi tindakan, itu namanya diskriminasi. Jadi kita memperlakukan seseorang berbeda hanya karena dia bagian dari kelompok tertentu," ungkapnya.

Semua sikap tersebut, lanjut Zein, sebenarnya bisa terselesaikan jika ada interaksi di antara keduanya. Interaksi dan komunikasi menjadi satu-satunya jalan penyelesaian sehingga prasangka negatif tersebut akan mengaburkan pikiran manusia yang awalnya membuat pengelompokan orang lain berdasarkan suku tertentu.

"Nah, Indonesia saya sebut tidak masalah karena kita interaksinya luar biasa. Kita pasti berinteraksi sama orang yang berbeda. Beda agamanya, beda warna kulitnya, beda suku bangsanya,’’ ujarnya.

Masyarakat Indonesia Sebenarnya Terbiasa Dihadapkan Oleh Perbedaan

Alasan Indonesia Bukan Negara Rasis
Keberagaman Indonesia © grizper a.k.a nantachi/Shutterstock

Jika kita melihat perjalanan sejarah, masyarakat kita terbiasa bertemu dan berinteraksi dengan orang yang berbeda, baik secara suku, agama, ras, dan lainnya. Interaksi ini, menurut Zein, menjadi salah satu proses yang secara tidak sadar untuk melatih menghindari sikap rasial.

"Kan kita terkenal sebagai masyarakat multikultural. Ada banyak budaya di dalamnya dan sebetulnya orang di Indonesia terbiasa berinteraksi sama orang lain. Jadi nggak ada masalah sebenarnya soal itu. Dari dulu kita terbiasa bertemu dengan orang yang berbeda,’’ kata Zein.

Ini berbeda dengan Amerika dan negara-negara Eropa, misalnya, karena di sana sebagian masyarakatnya tidak melihat keragaman sebagai kebaikan, melainkan sebagai perbedaan antara "aku" dan "kau". Ini yang menjadi api dalam sekam yang bisa sewaktu-waktu terbakar menjadi konflik rasial.

Karakteristik sebagai bekas negara kolonial seperti di Eropa sana, diungkap Zein, menjadi salah satu cikal bakal timbul rasialisme.

"Ada konflik antara ras pendatang dengan ras asli. Orang yang mulai menjajah, datang ke wilayah tersebut untuk membentuk koloni. Nah, di situ mulai terjadi perbedaan karena pada awalnya orang itu datang mau menguasai tanah," papar Zein.

Amerika memang punya catatan sejarah mengenai konflik rasial yang berakar ke praktik perbudakan pada abad ke-17 dan ke-18 dan baru berakhir pada 1865. Sejarah Amerika pun diwarnai oleh tokoh-tokoh kesetaraan ras seperti Abraham Lincoln, Malcolm X, dan Martin Luther King Jr.

Menurut Zein, Indonesia tidak memiliki cerita seperti itu, walaupun kita punya catatan mengenai konflik etnis dalam perjalanan sejarah kita.

Lalu mengapa kita masih kerap menemukan sikap dan perilaku masyarakat yang condong pada diskriminasi dan rasisme?

Insting Wajar Manusia

Insting Wajar Manusia Terhadap Perbedaan
Ilustrasi perbedaan yang terjadi di kelompok manusia © Andrii Yalanskyi/Shutterstock

Ketika Kawan GNFI berada di dalam angkutan umum, lalu tiba-tiba ada seseorang—katakan orang kulit hitam—secara tak sengaja duduk atau berdiri tepat di samping kita. Sadarkah kalau tubuh kita kerap agak bergeser?

Apakah ini termasuk cikal bakal sikap rasis dan diskriminatif?

Zein bilang, "Itu bukan karena kita rasis. Bukan karena kita diskriminatif tapi itu digerakkan oleh insting. Yang namanya insting itu terjadi sepersekian detik dan manusia tidak bisa mengontrol itu. Kita memang melakukan itu."

Itulah sebabnya kita tidak sadar melakukannya dan kerap disalahartikan oleh orang lain. Zein menjelaskan dalam psikologi evolusioner, Zein menjelaskan, ada tiga hal yang akan mengaktifkan insting sehingga manusia akan otomatis melakukan sesuatu secara tidak sadar dan secara spontan bersikap sesuatu kepada orang lain, yakni:

- Potensi Ancaman

Manusia sebenarnya bisa memprediksi terkait adanya ancaman yang mungkin atau berpotensi terjadi pada diri mereka. Secara instingtif, tubuh akan bergeser menjauh untuk menghindar dari potensi bahaya yang sebenarnya belum tentu tentu terjadi dan itu tidak melulu soal ras.

"Kalau mau dieksperimenkan, bahkan kalau itu kulit hitam atau kulit putih, tapi tubuh kita mempersepsi itu sebagai ancaman, insting kita akan aktif,’’ jelas Zein.

Manusia sebenarnya harus memahami jika hal tersebut terjadi. Zein bilang, jangan terburu-buru bahwa hal tersebut dikatakan sebagai sikap diskriminatif.

- Pemimpin Potensial

Secara tak sadar, insting manusia sering terjadi dalam kasus ini. Kondisi yang akan membuat kita cenderung untuk suka dan mendekati seseorang dengan karisma pemimpin.

"Makanya politikus-politikus gemar pencitraan, ya memang citra berkharisma itu secara instingtif akan mudah disukai," kata Zein.

- Kemungkinan menjadi Pasangan

Layaknya seperti manusia menyukai seseorang yang memiliki kharisma pemimpin, secara insting manusia juga akan lebih menyukai kepada seseorang yang dianggap berparas cantik dan tampan.

"Tapi bukan karena kita diskriminatif, awalnya ini terjadi karena instingtif (tidak bisa dikontrol), tapi justru selanjutnya bisa kita kontrol dan kita kelola," kata Zein.

Pada tahap ini pula manusia melihat peluang untuk bisa bereproduksi. Insting itu mucul karena "kita merasa ras atau kelompok kita akan dapat survive," kata Zen.

Semua hal yang terjadi itu merupakan naluri dan otomatis akan terjadi pada diri manusia. Bahkan secara lebih dalam, Zein menjelaskan, ini merupakan suatu basis teori Darwin yang menjelaskan dorongan manusia untuk bertahan.

"Survival of the fitness. Yang paling cocok, yang paling nge-blend [dengan lingkungan], itu yang bisa survive.’’

Ingat Kongres Pemuda? Ini Awal Usaha Merapatkan Jurang Perbedaan

Kongres Pemuda II
Peserta Kongres Pemuda II © Dok. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Tujuh belas tahun sebelum negeri ini memproklamirkan diri. Para pemuda Indonesia mulai sadar bahwa perjuangan kemerdekaan tidak bisa bersifat lokal. Itu hanya sia-sia. Hanya dengan persatuan dan kesatuan cita-cita, kemerdekaan itu dapat diraih.

Ronde pertama, pada 1926 di Yogyakarta, Kongres Pemuda pertama berhasil merumuskan dasar-dasar pemikiran bersama yang meliputi:

  1. Cita-cita Indonesia merdeka menjadi cita-cita semua pemuda Indonesia
  2. Semua perkumpulan pemuda berdaya upaya menggalang persatuan organisasi pemuda dalam satu wadah.

Seakan belum puas akan hasil itu, para pemuda kembali menggelar Kongres Pemuda II dengan hasil yang lebih besar. Pada 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda menjadi babak baru bagi perjuangan bangsa Indonesia. Perjuangan—yang disadari—tadinya hanya bersifat lokal kedaerahan, berubah menjadi perjuangan nasional.

Tentu kita ingat bahwa kongres itu dihadiri oleh berbagai organisasi kepemudaan wakil dari setiap suku atau agama. Ada Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumateranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dan lainnya.

Jangan lupakan tiga pemuda Papua yang juga turut hadir dalam kongres tersebut. Mereka adalah Abner Ohee, Aitai Karubaba, dan Orpa Pallo. Kerap terlupakan, namun dari mereka bertiga yang membuat bara semangat Sumpah Pemuda akan arti kesatuan menyala dalam masyarakat Papua tetap terasa sampai sekarang.

Tak lupa para pemuda Tionghoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang, dan Tjoi Djien Kwie. Tak perlu dipersoalkan dari mana darah asli mereka. Kenyataannya, mereka turut andil dalam misi mempersatukan Indonesia dalam kongres. Sama-sama sepakat bahwa negeri negeri yang berwarna-warni suku ini harus merdeka.

Sejak saat itu, Sumpah Pemuda terus menjalar dalam dada generasi muda Indonesia, tak terkecuali juga para pemuda keturunan Arab. Menang butuh waktu enam tahun bagi mereka untuk ikut sepakat mengakui Indonesia sebagai tanah air. Kesadaran itu tertuang dalam kongres pada 4-5 Oktober 1934 di Semarang.

Bangsa memang terdiri dari manusia-manusia yang memiliki insting tapi juga bisa belajar. Begitu juga sebuah bangsa bisa belajar, dari pengalamannya sendiri, atau pengalaman bangsa lain untuk bisa tumbuh menjadi bangsa yang besar.

--

Sumber: Wawancara Eksklusif GNFI | Kompas.com | Kabarpapua.co | Sejarahlengkap.com

--

Baca Juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi75%
Pilih TerpukauTerpukau25%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Mengupas Sejarah Salah Satu Desa Tertinggi di Indonesia, Wae Rebo Sebelummnya

Mengupas Sejarah Salah Satu Desa Tertinggi di Indonesia, Wae Rebo

Sejarah Hari Ini (14 Agustus 1961) - Apel Akbar Gerakan Pramuka Indonesia di Jakarta Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (14 Agustus 1961) - Apel Akbar Gerakan Pramuka Indonesia di Jakarta

Dini Nurhadi Yasyi
@dininuryasyi

Dini Nurhadi Yasyi

fiksidini.wordpress.com

1 Komentar

  • gunawan dewa saputra

    wanita obesitas cenderung memasukkan prasangka dan stigma terdiskriminasi dari lingkungan sosial sehingga berdampak pada perasaan stress dan memberikan pengaruh pada Aktivitas fisik wanita obesitas sering terjadi adanya diskrimminasi, tidak jarang psikologis dari wanita obesitas ini juga ikut terserang yang akhirnya membuat wanita obesitas memandang negatif dirinya, tidak menarik, dan merasa bodoh. http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-jpkscee634f497full.pdf

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.