Ragam Upaya Mencegah Hilangnya Salju Papua

Ragam Upaya Mencegah Hilangnya Salju Papua

Pendaki dan gletser di puncak Jaya | Shutterstock

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Bagi kawan GNFI yang pernah mendengar istilah ''Salju abadi'' di Puncak Jaya, Papua, kini harus membuang jauh-jauh kata ''Abadi'' tersebut.

Beberapa penelitian menyebut, bahwa satu-satunya hamparan salju yang ada di Indonesia itu akan punah dalam waktu dekat. Padahal, Puncak Jaya adalah bagian dari Seven Summits--gunung tertinggi di dunia--yang salah satu daya tariknya adalah gletser tropis.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal milik National Academy of Science, AS, Dugu-Dugu--demikian masyarakat Papua menyebutnya--akan hilang dari pandangan pada tiga dekade sejak era milenium dimulai.

Bahkan ada juga yang memprediksi melalui statistik bahwa salju abadi itu akan hilang dalam kurun dua tahun ke depan.

Menyedihkan kawan.

Tapi kabar baiknya adalah, ada upaya yang dilakukan pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat, untuk mencegah hilangnya salju Papua itu lebih dini.

Lantas, upaya-upaya apa saja yang mereka lakukan? Berikut paparannya.

Penyusutan Ekstrem

Pada pertengahan 2019, Islandia memonumenkan kepunahan gletser pertama ketika Okjökull menghilang di musim panas pada 2014. Peristiwa itu dinilai sebagai peringatan bagi 400 gletser lain di kepulauan sub-artik tersebut.

Sementara ilmuwan Swiss melaporkan laju kenaikan emisi karbon dioksida (CO2) akan memusnahkan 90 persen gletser di pegunungan Alpina pada ujung abad ini (tahun 2100).

Dari ragam penelitian itu, mereka menyebut gletser memiliki mikro ekosistem yang rumit dan sensitif. Sekali mencair, laju penyusutan bakal tak terbentdung.

Hal serupa juga bakal mengancam gletser Carstenz (Puncak Jaya 4.884 mdpl) yang terhampar seluas 68,6 hektare pada ketinggian 4.600 mdpl. Hasil studi lapangan pada 2010 menyebut bahwa gletser ini memiliki ketebalan 32 meter dan terus menyusut sebanyak tujuh meter saban tahunnya.

"Gletser tropis kebanyakan lebih kecil dan reaksi mereka terhadap variasi perubahan iklim jauh lebih cepat ketimbang pada gletser yang lebih besar," kata Glasiologis Indonesia, Donaldi Permana, anggota tim ilmuwan, dalam DW.

penyusuran gletser papua

Gambaran susutnya luasan gletser di puncak Jaya | Wikipedia

Dalam sebuah diskusi webinar ''The Last Glacier in Papua", Rabu (10/6/2020), Donaldi juga menyebut bahwa bisa jadi kepunahan gletser Papua akan terjadi 10 tahun mendatang, bahkan lebih cepat. Terlebih jika terjadi kondisi Elnino

Ia pesimistis agak sulit untuk menyelamatkannya, tapi untuk mencegah cepatnya penyusutan bisa dilakukan dengan beragam monitoring.

''...Apalagi ini satu-satunya gunung puncak es di Indonesia."

Dalam kesempatan yang sama, sebuah catatan yang dipaparkan Ripto Mulyono soal penyusutan ektrem gletser tropis ini yang terus terjadi seiring waktu. Padahal ia menyebut beberapa dasawarsa lalu puncak salju itu masih terlihat jelas dari laut Arafuru.

Orang Indonesia pertama yang menginjakkan kaki di puncak Aconcagua, Argentina, ini juga mengatakan banyak es yang sudah tak nyambung antar-puncak gunung. Sebut saja sambungan dari Puncak Soekarno dan Puncak Soemantri.

Soal penelitian, sambungnya, pada tahun 1964 Presiden Soekarno pernah memerintahkan RPKAD untuk meriset yang bekerjasama dengan universitas di Jepang.

Dari paparannya, diperoleh data sebagai berikut;

penyusutan gletser papua

Para ilmuwan juga memperkirakan gletser-gletser di Papua telah kehilangan sebanyak 85 persen luasnya sejak beberapa dekade terakhir. Studi anyar yang dilakukan National Academy of Science mencatat luas gletser yang dulu terhampar sekira 2.000 hektare, menyusut menjadi kurang dari 100 hektare.

Para peneliti juga mencatat laju penurunan es yang lebih cepat secara ekstrem, yakni lima kali lipat hanya dalam beberapa tahun terakhir.

Biang Kerok Susutnya Salju Papua

Beberapa kondisi yang menyebabkan susutnya salju Papua menjadi konsentrasi beberapa pihak, kehusus bagi pemerintah, ilmuwan, pengamat lingkungan, juga tentunya masyarakat sekitar yang bakal terdampak.

Catatan-catatan penting lainnya menyebut bahwa perubahan iklim yang ekstrem, pemanasan global, panasnya permukaan laut, dampak emisi karbon dioksida, dan efek rumah kaca, menjadi biang kerok penyusutan gletser di seluruh dunia, tak terkecuali salju Papua.

Dalam laporan Indonesia Third National Communication, seperti yang dijelaskan oleh Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sri Tantri Arundhanti, bahwa suhu permukaan cenderung meningkat 1,5 derajat celsius serta suhu permukaan laut yang naik 0,25 derajat celsius per dekade, juga berperan dalam penyusutan salju abadi ini.

citra satelit puncak jaya
Kondisi gletser Carstenz sesuai citra satelit pada 1988 | NASA

citra satelit puncak jaya
Kondisi gletser Carstenz sesuai citra satelit pada 2017 | NASA

Sumber lainnya datang dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

Dalam penelitian yang mereka lakukan di 2009, diperoleh prediksi bahwa pada 2010 gletser Papua akan tersisa tak kurang dari 20 persen saja. Prediksi itu menggunakan skenario metode pengukuran penelitian (RPC) dengan skala 8,5.

Hal lainnya juga dijelaskan oleh Prof. Dwi Susanto, Profesor Riset Universitas Maryland, yang mengatakan bahwa Lanina dengan tingginya curah hujan juga tak akan berdampak pada kelangsungan gletser Papua.

Ia merincikan jika curah hujan yang tinggi disertai dengan suhu dingin (di bawah nol derajat celsius) maka akan memungkinkan gletser tropis ini bisa bertahan.

Akan tetapi pada kenyataannya, meski Lanina kerap terjadi di Papua, dampak Elnino masih terus mendominasi dan langsung membuat permukaan Carstenz panas, hingga mempercepat mencairnya es.

Belum lagi pertambangan besar-besaran di sekitar Taman Nasional (TN) Lorentz, yang merupakan TN terbesar di Indonesia. Seperti diceritakan Tim Mapala UI, Farida D Lasida, dalam diskusi tersebut.

Wanita yang pernah menapaki puncak Elbrus (Rusia), Kilimanjaro (Tanzania), dan Carstenz, itu menyebut jika area pertambangannya semakin meluas.

Pada tahun 2000-an saja sudah masuk ke wilayah Zebrawall dan terus meluas ke Tebing Biru, batas lembah danau-danau, hingga Lembah Kuning.

jalur pendakian carstenz
Ilustrasi jalur pendakian Carstenz yang mulai tersentuh eksplorasi pertambangan | Summitpost.com

Pertambangan dikatakan membantu percepatan penyusutan gletser Papua dikarenakan lorong-lorong bawah tanah (underground) yang dibuat Freeport sejak 1981 mengikis jutaan galon ketersediaan air yang sejatinya berfungsi mendinginkan permukaan.

Kesaksian Farida juga dilengkapi dengan keterangan Hadi Djojo, pendaki profesional dan pengamat lingkungan. Ia menceritakan pada 1972 ia bertemu dengan tim peneiti dari Australia yang memprediksi runtuhnya salju Papua kemungkinan akan terjadi pada 2022.

Jika prediksi itu benar, maka umur gletser tropis ini tak akan lebih lama dua tahun dari sekarang.

Apa Dampaknya?

Berkurangnya ekosistem gletser Papua pada akhirnya akan berdampak pada ekosistem lingkungan lain.

Seperti diungkap Cris Sembay, dari Balai TN Lorentz, yang mengatakan jika salju mencair maka yang paling pertama terdampak adalah spesies endemik yang hidup di atas ketinggian 4.000 mdpl, yang dikuatirkan ikut musnah.

Lain itu, sambung Cris, bakal hilang juga sumber pendapatan masyarakat sebagai pemandu (guide) para pendaki yang ingin menuju kawasan Carstenz.

Sementara Donaldi menyebut bahwa dampak lain yang akan timbul adalah tingginya permukaan laut. Ia mengatakan bahwa sejatinya penambahan tinggi permukaan laut bukan disebabkan oleh es kutub yang mencair, melainkan mencairnya es di daratan.

‘’Di Papua karena selalu hujan, maka hilangnya es-nya tak akan terlihat, tapi akan ada dampak bagi flora dan fauna di sana,'' tandasnya.

Upaya yang Dilakukan

Dari papan yang disebutkan di atas, maka tentunya banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dilakukan semua lapisan, baik dari pemerintah, ilmuwan, juga masyarakat.

Setidakya ada enam hal yang sedang diupayakan untuk mencegah percepatan susutnya salju abadi Papua. Hal-hal tersebut adalah:

  • Langkah-langkah mitigasi dan adaptasi,
  • Peringatan serius soal penggunaan energi (fosil dan batubara),
  • Dibuat batas yang tegas antara eksplorasi tambang dan taman nasional,
  • Pendekatan banyak pihak, mulai dari pemerintah dan para pakar, psikolog, dan antropolog,
  • Membangun komunikasi strategis dalam konteks memberikan edukasi kepada pendaki soal limbah sampah, dan
  • Mengangkat isu agar didengar semua kalangan untuk bersama-sama mencegah hilangnya gletser di Papua.

Soal langkah-langkah mitigasi dan adaptasi, Tantri menyebut bahwa kebijakan untuk perubahan iklim soal mitigasi sudah menjadi komitmen pemerintahdan saat ini terus dilakukan.

Tinggal masyarakat harus berpartisipasi atas perubahan iklim ini, dimulai dari perubahan perilaku yang lebih mengarah kepada pola hidup hijau. Dimulai dengan penggunaan tranportasi misalnya, atau kegiatan yang ramah lingkungan.

Hal ini karena pada tiap tahunnya populasi bertambah dan kebutuhan soal energi terus meningkat. Lain itu ia juga menyarankan untuk menghindari penggunaan plastik, yang berpotensi menjadi limbah yang sulit terurai.

Sementara Dwi mengatakan bahwa pelbagai pihak harus mulai intens melakukan penyuluhan kepada masyarakat lokal, guna mencari solusi yang terbaik.

“Kita juga harus makin rajin mengedukasi masyarakat menjaga lingkungan, baik bagi yang di darat maupun di laut, dan mulai berdamai dengan alam.”

Hal lain soal upaya yang sekarang ini dijalankan dan terus dilakukan adalah memberikan batasan-batasan atas eksplorasi di TN Lorentz. Lain itu soal aturan ketat bagi para pendaki dengan regulasi-regulasi tertentu.

Tak bisa dimungkiri jika Puncak Jaya masih menjadi kebanggaan sebagian penjelajah untuk mencapainya karena nama besar Kawasan tersebut. Namun, beberapa tahun masih terlihat tak adanya pengawasan atau regulasi serta sanksi bagi para pendaki yang melakukan kerusakan lingkungan.

Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih100%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Terbanyak di ASEAN, lalu Bagaimana Kiprah Pasukan Perdamaian PBB Indonesia dalam Misi Peacekeeping Operations Sebelummnya

Terbanyak di ASEAN, lalu Bagaimana Kiprah Pasukan Perdamaian PBB Indonesia dalam Misi Peacekeeping Operations

Indonesia Juara Film Tari Internasional EurAsia Dance Project Selanjutnya

Indonesia Juara Film Tari Internasional EurAsia Dance Project

Mustafa Iman
@mustafa_iman

Mustafa Iman

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.