Dari Titik di Gunung Timau ini, Tata Surya Bisa Dilihat Dari Segala Penjuru

Dari Titik di Gunung Timau ini, Tata Surya Bisa Dilihat Dari Segala Penjuru

Ilustrasi © Unsplash.com

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sedang membangun observatorium nasional di Timau, Amfoang, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Menariknya, wilayah tempat observatorium ini nantinya akan jadi destinasi Taman Nasional Langit Gelap pertama di Indonesia.

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan observatorium nasional di Timau akan menggantikan observatorium Bosscha di Lembang, Bandung, Jawa Barat.

"Dari tahun 1923 sampai dengan 1970an observatorium Bosscha masih berfungsi baik. Pada 1980an kota Bandung sudah semakin terang, polusi cahayanya sudah terlalu tinggi. Jadi untuk memotret galaksi dan objek yang redup sudah sangat sulit," tutur Djamal.

Maka, pada sekitar tahun 2011, tim astronom dari Institut Teknologi Bandung melakukan survei di seluruh Indonesia untuk mencari lokasi yang cocok dijadikan tempat observatorium baru. Pilihan akhirnya jatuh di sekitar lereng gunung Timau, NTT.

Yang istimewa, disebutkan Djamal bahwa observatorium di Timau ini akan menjadi rumah bagi teleskop terbesar di Asia Tenggara, dengan diameter 3,8 meter. Keberadaan observatorium nasional Timau, bisa menyumbang perkembangan sains dan teknologi antariksa di Indonesia. Selain itu, observatorium Timau juga akan mampu menjadi daya tarik wisatawan karena menjadi observatorium terbesar di Asia Tenggara.

View this post on Instagram

🇮🇩 Indonesia is entering a new chapter in aeronautics to be marked by construction of the largest national observatory facility in Southeast Asia. The observatory will be equipped with a telescope having a diameter of 3.8 meters, believed to be the largest and modern telescope in the Southeast Asian region. Having the latest and efficient technology, the telescope will be used for astrophysical research related to star observations, nebulae and galaxy structures.. The Timau mountainous area is considered to be a suitable site for building an observatory since it is located near the equator and can be used to observe the northern and southern hemispheres. The mountainous area is free from air pollution, and its tropical climate is ideal for making astronomical observations. . . #indonesiatechnology #indonesiaobservatory

A post shared by Good News From Southeast Asia (@seasia.co) on

Masih menurut Djamal, dari wilayah Gn Timau ini, susunan tata surya bisa dilihat dari berbagai penjuru, baik sisi utara maupun selatan sehingga akan memiliki daya tarik tersendiri bagi para peneliti dunia untuk melakukan penelitian. Kabag Humas Setda Kabupaten Kupang Stefanus Baha menambahkan bahwa observatorium nasional di pegunungan Timau dengan segala kondisi nya tidak dimiliki Observatorium di negara lain.

Observatorium yang dimiliki Australia, misalnya, hanya dapat melihat tata surya dari bagian selatan, sedang Observatorium Jepang dan Amerika hanya melihat tata suria dari bagian utara saja.

Sumber : Langitselatan.com
Caption

"Kalau Observatorium di pegunungan Timau bisa melihat tata surya dari bagian utara maupun selatan. Kelebihan itulah yang mendorong LAPAN untuk membangun Observatorium di sana," ujarnya.

Ditambahkannya, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur membangun jalan sepanjang 40 kilometer menuju ke kawasan obsevatorium terbesar di Asia Tenggara di Gunung Timau. dengan dibangunnya jalan tersebut, maka akses jalan menuju ke kawasan observatorium yang dibangun oleh Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) sudah bisa dilalui tanpa ada jalan yang rusak.

Kawasan Gunung Timau yang terletak sekitar 65 kilometer arah timur laut Kupang ini memiliki topografis yang bergelombang dan terjal, dengan bentangan kawasan hutan mulai dari ketinggian 200 meter di atas permukaan laut dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, seperti hutan Eucalyptus urophylla dan hutan semi awet hijau.

Pada daerah yang lebih rendah ditutupi oleh hutan savana yang ditumbuhi oleh Eucalyptus alba, Casuarina junghuhniana, dan regenerasi hutan semi-luruh daun.

Kawasan ini mencakup hutan dataran rendah yang terbaik dan terluas di Pulau Timor bagian barat, Nusa Tenggara Timur.

Kawasan pegunungan Timau seluas sekitar 15.000 hektare itu, berada pada titik koordinat 09'-34' LS 123-51' BT dengan ketinggian 500 - 1.774 meter di atas permukaan laut.

Sebelumnya, GNFI pernah menulis mengapa Gn Timau menjadi lokasi yang sangat menarik. Simak tulisannya berikut ini.

Pilih BanggaBangga62%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi8%
Pilih TerpukauTerpukau23%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Dua Negara ini Borong Persenjataan Tempur Buatan Indonesia Sebelummnya

Dua Negara ini Borong Persenjataan Tempur Buatan Indonesia

Susul Gopay, LinkAja Dan Dana Akan Membuat Fitur Pembayaran SPP Selanjutnya

Susul Gopay, LinkAja Dan Dana Akan Membuat Fitur Pembayaran SPP

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.