Le Wuni, Sendu Duka Syair Wamena

Le Wuni, Sendu Duka Syair Wamena

Festival Lembah Baliem Wamena © Medcom.id

Janganlah engkao memandang hina airmataku karena ia merupakan sari darah hatiku”. Begitu secercah kalimat yang berasal dari seorang penyair Persia.

Mungkin hal itu juga menggambarkan bahwa duka, tangisan, dan kesedihan adalah sebuah rasa yang memang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Hal ini tergambarkan oleh warga Wamena, mereka memiliki sebuah nyanyian syair yang menghanyutkan batin dalam duka yang mereka rasakan.

Wamena, sebuah kota yang terletak di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Sebuah kota yang kaya dengan budaya dan keberagaman adat istiadat bak seperti negeri dongeng.

Tapi jangan sampai apa yang ada pada wilayah tersebut hanya menjadi daya cerita dan kata-kata saja, Wamena bukti nyata kekayaan seni Indonesia. Kita harus bangga akan itu.

Bagaimana tidak? Segala kegiatan dan upacara adat yang mereka miliki mempunyai filosofinya masing-masing, indahnya pesta satu kesatuan juga tergambar pada Wamena. Salah satu contohnya adalah Le Wuni.

Le Wuni berarti sebuah tangisan dalam sebuah syair. Sebuah paranada yang disuarakan secara bersamaan. Saling merasa dan memahami dalam sebuah kedukaan.

Dahulunya Le Wuni tercipta karena ada suasana duka yang dikarenakan salah satu pihak keluarga yang meninggal dunia atau jika tanah atau alam yang dimiliki berhasil diambil alih oleh musuh. Maka pada saat itu Le Wuni akan berlantun dan menyanyikan duka bersama.

Suku di Wamena | Foto: suarajatim.co.id

Contoh syair yang dilantunkan adalah seperti berikut:

“jika saja kao masi hidup, kita akan selesaikan rencana itu. Tapi mengapa kao pergi seceepat ini”, “lahan ini tidak akan ditumbuhi rumput jika kao masih hidup, sekarang kalian suda pergi, lahan ini jadi milik rumput, siapa lagi yang akan melanjutkan” “kepergiatanmu menelantarkan anak-anak dan istri. Bagaimana nasib mereka?”

Selain saat kedukaan, di Wamena, Le wuni juga dilantunkan untuk beberapa upacara adat lainnya, misalnya pernikahan, ketika keluarga perempuan melepas seorang gadis untuk bersatu dengan suaminya, pesan dan nasehat untuk keluarga baru dititipkan melalui le wuni. Seluruh nyanyian pastinya dinyanyikan dalam bahasa Wamena.

Budaya ini sudah semakin tergerus oleh dunia modern, mari sedari kini kita sadarkan, kita sebarkan, kita lestarikan adat istiadat yang Indonesia miliki.

Mungkin jikalau tidak ada kesempatan untuk mengetahuinya secara langsung, setidaknya kita pernah tahu dan paham bahwa hal tersebut ada di bangsa ini, dan dapat kita teruskan cerita itu ke anak cucu kita nanti, setuju Kawan GNFI?

Referensi: nokenwene.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Menanti Monas yang Lebih Hijau Sebelummnya

Menanti Monas yang Lebih Hijau

Susul Gopay, LinkAja Dan Dana Akan Membuat Fitur Pembayaran SPP Selanjutnya

Susul Gopay, LinkAja Dan Dana Akan Membuat Fitur Pembayaran SPP

Raka Nugraha
@rakanugraha

Raka Nugraha

I'm curios about everything, and i'm support the indonesian good news!

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.